KUAT MENJERAT

kokohnya sekuat tekad
memberi rasa menguat menjerat

Rabu, 19 Juni 2019

# Patuh mengabdi kepada-Nya



Dalam hubungannya kita sebagai seorang hamba, tentunya patuh dalam mengabdi diri kepada Allah merupakan hal yang wajib dan patut untuk senantiasa kita jaga, karena Allah menyabdakan dalam Al-quran serta menggaris bawahi pentingnya kualitas kedudukan bagi orang beriman, dalam (Q:S Al – Baqarah 2 : 136)

“ Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya "

Karenanya, keikhlasan sejati membutuhkan ketundukan serta penyerahan total kepada Allah, serta taat dan patuh dengan segalanya kepada-Nya.

Patuh, ikhlas mengabdi kepada Allah dengan menyakini dengan keimanan yang melekat pada diri dalam dada kita, berbaik sangka penuh keyakinan, maka sewajarnya hal yang terbaik akan Allah berikan saat kita berbenar taat dan patuh, untuk itu mengabdi hanya kepada-Nya menjadi titik awal syarat untuk seorang hamba yang beriman memiliki-Nya dalam hati dan seluruh jiwa.

Namun, seseorang yang ridho atas ketentuan Allah, tetapi hanya sekedar bersyukur dan berserah diri kepada-Nya dalam kondisi tertentu, tidak dapat dikatakan sebaik-baiknya berserah, jika kita menjadi pemberontak kedalam ketidak patuhan saat kondisinya mulai berubah.

Coba kita lihat, ada suatu contoh orang yang memiliki hubungan berbisnis yang baik dan omsetnya selalu meningkat, kemudian orang tersebut mengatakan bahwa Allah-lah yang mengizinkan dan merindhoi keberuntungannya. Akan tetapi, saat segala bisnisnya memburuk ia tiba-tiba berbalik dan melupakan kepatuhanya kepada Allah, membangkang atas segala utusannya dan bahkan ia mulai menyalahkan Allah. Ini sebagai contoh jika kita tidak mengimani dan mempercayai Allah atas segala kehendaknya dengan sebenar benarnya, tanpa harus memperdulikan apakah yang terjadi akan baik / buruknya, apakah yang terjadi tampak menolong / menjatuhkannya.

Seseorang hamba akan dipandang spesial kepada Allah, saat kita dapat melakukan kebaikan-kebaikan dengan ikhlas dan bahkan yang hukumnya sunah menjadikan wajib untuk kita, contohnya sholat dhuha, sholat tahajud, bersedekah yang sering kita lakukan, itu yang akan menjadi Allah menjadikan kita spesial. Sehingga keindahan yang tak tersangka kadang menghampiri dengan tak terkira dan memberkah atas-Nya.

” kuncinya, berbaktilah, mengabdilah, patuhlah dengan sebaik- baik hamba, hingga Ia bangga dengan kita ”

Pada intinya, pada saat kita sadar bahwa hidup yang kita tapaki akan berujung ditempat yang kekal abadi, disaat itulah apa yang telah kita lakukan akan dibalas sama seperti yang kita kerjakan.

Berbakti, mengabdi kepada Allah dengan sebenar-benar iman dengan setinggi-tingginya taqwa, yakinlah akan berbuah seperti apa yang kita tanamkan.






# Ingatkan aku Ya Rabb

Ingatkan aku ya Rabb,
Saat hatiku lelah untuk patuh memohon ampunan
Saat langkahku terasa berat untuk berjalan dari cobaan
Saat air mata terasa terlalu sering mengeluh tanpa kesadaran
Saat syukur terlupa untuk kuucapkan
Saat doa terlepas untuk kupanjatkan

Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa kasih-Mu adalah lebih dari kesempitan
Bahwa karunia-Mu selalu dapat kurasakan
Bahwa engkau tak pernah letih saat aku membutuhkan

Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa hidup bukanlah suatu keabadian
Bahwa bekalku belumlah cukup untuk kubanggakan
Bahwa cinta bukanlah akhir dari suatu permulaan

Ingatkan aku ya Rabb,
Untuk selalu patuh mengabdi tanpa keluhan


Minggu, 16 Juni 2019

# Keindahan dengan-Nya



Orang beriman tahu,  orang yang hidup dengan ajaran dan patokan al-quran dan sunnah akan mengetahui bagaimana menghargai hal yang indah untuk keindahan. Baik keindahan fisik maupun dalam hati, yang ia tercermin dari perilaku yang baik, bertutur yang baik, berbusana yang baik merajut kedalam akhlak yang baik.

Kita sebagai seorang muslim yang memiliki kesadaran akan iman, keindahan yang tercipta didunia oleh manusia terasa sangatlah biasa saja dibandingkan keindahan yang tercipta dari keindahan-Nya.
Coba rasakan, embun dipagi hari dengan matahari bersinar mengiringi serta saat malam hari datang bersama keindahan gemerlap berbintang, itulah wujud kecil keindahan yang Allah ciptakan yang begitu indah dan agung tiada taranya.

Oleh sebab itu, kerinduan akan keindahan orang yang sungguh beriman bukanlah kemewahan - kemewahaan sesaat dunia, tetapi ia akan menciptakan lingkunganya dengan tempat pengingat keindahan akan syurga-Nya.

Tentu saja syurga merupakan tempat terindah yang Allah ciptakan untuk orang – orang yang beriman dan juga bertaqwa kepada-Nya. yang bahkan fikiran kita untuk membayangkannya pun tidak sanggup, untuk menggambarkan keindahan syurga-Nya, karena syurga ibarat pekerjaan seni yang ia jauh lebih indah dari apa yang dibayangkan manusia dengan pandangan keindahan yang sempurna.
Sehingga, seorang muslim yang hidup sesuai ajaran al-quran dan sunnah akan menggunakan semua yang dimilikinya untuk memperindah nilai, sikap, rasa yang terbaik untuk Allah Azzawajallah.
untuk itu, berlomba dalam kebaikan dalam memperindah keindahan sikap kita kepada manusia dan iman kita kepada Allah adalah syarat wajib dalam menambah nilai keindahan yang akan tercipta.

“ Karena keidahan yang terindah saat buah akhlak menjadi iman, buah iman menjadi taqwa dan buah taqwa menjadi syurga “

Keindahan didunia
Keindahan di akhirat
CintaNya di dunia
CintaNya di akhirat
Bersama, keindahan –Nya.

Jumat, 14 Juni 2019

# Cahaya Terpuji



Sejarah alam semesta ini tidak bisa lepas dari apa yang disebut Cahaya Terpuji. Suatu cahaya yang Allah ciptakan dari cahaya-Nya sendiri. Suatu prima causa adanya alam semesta. Allah yang Ahad, tunggal tidak ada apapun kecuali Allah. Lalu memancarkan suatu cahaya yang sangat ia cintai, Nur Muhammad. Karena sangat cintanya dengan cahaya itu lalu dari cahaya itu direntangkanlah menjadi alam semesta, atau oleh para ilmuwan dibahasakan dengan big bang. Terbentuklah semesta dan segala isinya. Inilah awal kehidupan, dari cahaya yang terpuji. Tidak lain Allah menciptakan semua ini atas dasar cinta. Cinta kepada apa yang Dia ciptakan.

Tiada pernah lelah Allah memelihara apa yang sudah dibentangkannya. Direkayasa-Nya dari cahaya itu suatu entitas-entitas yang belum pernah ada sebelumnya. Dijadikannya matahari-matahari yang jumlahnya milyaran, kemudian munculah padatan-padatan planet, dihimpun dalam suatu sistem besar, mega konstruksi jagat raya, yang ketika kita arahkan mata keatas langit pada malam hari, terlihatlah sebagian kecil konstelasi indah tersebut.

Di pojokan jagat raya yang sangat besar terselip padatan yang kita namai bumi. Disinilah Allah menggelar drama kehidupan, pentas sosial mahluknya. Allah ciptakan keterkaitan dialektis antara satu dengan yang lainnya, antara manusia dengan alam sekitarnya, antara anggota himupunan alam dengan anggota lainnya. Yang dari hubungan itu bisa tercipta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Antara inti atom berdialektika dengan elektron membentuk unsur-unsur, unsur satu dengan yang lain membentuk senyawa, senyawa satu dengan yang lain membentuk zat-zat yang dengan keteraturan yang sangat halus membentuk keseimbangan dan tidak ada yang tidak taat kepada syariat Allah. Ditempat itu juga karya terabaik Allah SWT ditugaskan. Diberi jabatan sebagai Khalifatullah, representasi Allah di muka bumi dan jagat raya.

Jika dibandingkan ukurannya, manusia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan besarnya mega konstruksi jagat raya. Ibarat jagat raya ini kumpulan debu di padang pasir, manusia hidup di salah satu debunya. Sungguh kecil dan tidak berdayanya manusia. Tapi yang kecil dan lemah itulah yang diberi mandat pengelolaan bumi, diberi sedikit kemerdekaan untuk meyalurkan kreativitas. Agaknya memang tidak masuk akal tapi ya mau bagaimana lagi. Sempat juga dirotes oleh mahluk-Nya yang bernama malaikat, kenapa repot repot bikin manusia toh nanti kerjaannya membuat rusak dan salah bunuh menumpahkan darah saudaranya sendiri? Dengan kekuasaannya dia bantah malaikat “ Aku (Allah) lebih tahu dari kamu, kamu jangan sok tau”.

Singkat cerita dimualilah sejarah manusia dibumi, dari generasi-generasi. Pernyataan malaikat membuahkan bukti, sebagian manusia merusak bumi, sebagian lain sibuk perang, mencincang saudaranya sendiri dengan alasan yang tidak dibenarkan. Tapi itu semua bukan menjadi alasan untuk membatalkan penciptaan manusia. Allah bukanya tidak tahu bahwa yang diinterupsikan oleh malaikt-Nya itu tidak akan terjadi tapi memang bukan tujuan Allah untuk membuat manusia itu lurus-lurus saja, semuanya nurut-nurut, semuanya baik-baik, seperti cahaya tidak akan terlihat bercahaya kalau tidak diselubungi kegelapan, ditetapkannya dialektika cahaya kegelapan, baik buruk, surga neraka, salah benar. Mungkin itu kandungan pengentahuan Allah yang tidak diberikan pada siapapun bahkan malaikat sekalipun, tapi itu lebih tepatnya ya hanya Allah yang tau, manusia hanya bisa melakukan ijtihad untuk mencari pemahaman, yang penting keluarannya adalah bertambahnya iman.

Dalam perjalanannya manusia semakin tidak tahu tujuan, semakin tidak mengenal Tuhannya. Bahkan muncul kemungkinan baru, muncul Tuhan-Tuhan baru yang dianggap Tuhan oleh manusia padahal bukan. Akhirya sang cahaya terpuji, senior para mahluk, dimanifestasikan oleh Allah kedalam peran manusisa, menjadi Muhammad Bin Abdullah, anak dari pak Abdullah dan ibu Aminah. Ditugasi membimbing manusia kembali ke jalan-Nya, dibekali nubuwah dan risalah. Dan beliau Nabi Muhammad SAW adalah salah satu bukti cinta Allah kepada manusia. Allah tidak tega manusia lupa kepada asalnya, karena lupa pada asalnya adalah sumber bencana terbesar bagi manusia, dari situlah muncul bencana lain, sperti yang disampaikan malaikat berupa pengerusakan bumi dan pertumpahan darah. Dua bencana itu tidak lain disebabkan kebodohan manusia melupakan asal mulanya. Maka dituslah Rasulullah SAW.

Itu sebabnya dalam dialektika hubungan cinta kita kepada Allah, tidak boleh kita tinggalkan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW itu kekasihnya Allah, mahluk yang paling dicintai-Nya diantara yang lain, mahluk pertama yang Ia ciptakan dan sebagi sebab terciptanya alam semesta. Satu-satunya nabi yang diberi hak syafaat, Manusia pertama yang akan dimasukkan Allah ke surga, sampai umatnya juga kecipratan cinta-Nya sehingga umat Muhammad lah yang pertama juga masuk surga daripada umat-umat yang lain. Jadi kalau anda ditakdirkan lahir belakangan ini dan mendapat kesempatan jadi umatnya kekasih Allah Muhammad SAW, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu, itu adalah kesempatan sekali seumur hidup tidak bisa dulangi lagi kecuali Allah berekehendak lain. Kalau anda tidak pernah menyapa kekasih-Nya, Allah juga males menyapa anda, maka rajin-rajin lah menyapa kekasih Allah.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. 
(QS AL AHZAB, Ayat 56)

Wahai engkau Habibullah, kekasih Allah, 
Mutiara diantara batu-batu
Takdir memisahkan mu dari ku
Tidak pernah kupandang sejuk wajahmu 
Tapi keterbatasan itu hanya akan menambah cintaku padamu
Hanya akan menambah rinduku padamu 
Hanya akan menambah kenikamatan bertemu denganmu
Kami umatmu sangat merindukan pertemuan itu
Ya Allah izinkan kami bertemu dengan kekasih-Mu itu
Dengan cahaya yang engkau cintai, dengan cahaya terpuji -Mu


From : Mas_Haris 
Edit : Mas_Dika

x

# Tidak boleh

"Tidak boleh maksiat kapanpun dan dimanapun "
kata ini serasa sontak menghujam kedalam diri

rasa yang terjangkit didalam diri, yang entah mengetahui kesalahan yang telah menjadikan diri mengerti.

penyakit itu yang terasa didalam diri, maka mari katakan,

"tidak boleh maksiat kapanpun dan dimanapun"

Sadarkan bahwa yang pemilik maha melihat selalu mengetahuinya.


Minggu, 09 Juni 2019

# Dirimu Vs Dirimu



Sebelum melakukan apapun dalam kehidupan manusia dihalangi oleh tembok besar yaitu dirinya sendiri. Persyaratan niat yang terwujud adalah dengan menerobos tembok tersebut. Ini terjadi dalam segala aspek kehidpuan, apapun itu, baik soal iman, kelakuan, bicara, pilihan dan seluruh proses kehidupan. Penerobosan bisa berjalan lancar atau berjalan sangat sukar bergantung ketebalan tembok, kekuatan bahannya, dan tentu saja daya tembus diri. Tebal tipisnya tembok, bahannya, dan daya tembus diri sangat dinamis dan kadang-kadang membingungkan kalau tidak jeli melihatnya. Ada dua kemungkinan elemen peyusun tembok. Pertama tembok dengan bahan kebaikan dan tembok dengan bahan keburukan. Tembok kebaikan akan menemui daya tembus keburukan dan sebaliknya tembok keburukan akan menemui daya tembus kebaikan. Tembok yang pertama membatasi manusia untuk tidak berbuat buruk. Tersusun dari bahan-bahan tauhid, akidah, akhlak, iman, akal. Elemen-elemen ini tersususun sedemikian rupa sehingga membentuk pengendalian diri guna mengurung potensi daya tembus keburukan. Tembok yang kedua berfungsi memenjarakan daya tembus kebaikan. Mengantarkan manusia pada keburukan. Tersusun dari bahan kekufuran, kalalaian, kemalasan, syahwat. Kedua jenis tembok ini silih berganti mengiringi perjalan hidup manusia.

Tembok kebaikan akan kita temui ketika datang niat melakukan keburukan. Dan musuh kebaikan adalah keburukan. Maka pertentangan yang terjadi adalah pertentangan daya tembus kebukrukan melawan tembok kebaikan. Perubuatan baik akan terlaksana manakala tembok tersusun kokoh dan mempunyai ketebalan yang cukup untuk menahan keinginan buruk yang akan meniadakan kebaikan. Apabila manusia mampu mengurung potensi tersebut maka terwujudlah perilaku kebaikan. Begitu juga ketika temboknya tipis, strukturnya kacau tidak saling menguatkan. Roboh dan hancurlah tembok kebaikan,melesatlah perbuatan jahat. Produknya adalah perilaku-perilaku yang berifat merusak.

Tembok keburukan berdiri ketika kita mempunyai niat melaksanakan kebaikan. Menyelubungi dan memenjarakan daya tembus kebaikan yang akan kita nyatakan. Seberapa tebalnya tembok ini berbanding lurus dengan ongkos yang kita bayarkan untuk membangunnya. Ongkosnya adalah kemaksiatan yang terus-menerus, kemalasan berfikir, kesombongan, amarah, semuanya membantu mempertebal dan memperkokoh bangunan tembok keburukan. Setiap hal tersebut kita laksanakan bertambah kuatlah temboknya, yang berujung pada terkurungnya potensi kebaikan yang ada pada manusia. Semakin tebal dan kokoh tembok berarti semakin besar daya yang dibutuhkan untuk menembusnya. Tetapi ada suatu fase dimana daya tembus kebaikan manusia sudah tidak ada gunya lagi, karena begitu kuatnya tembok. Seperti yang Allah firmankan

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. 
(QS. An Nisaa', Ayat 88)

Namun ada juga suatu keadaan dimana tiba-tiba daya tembus kebaikan menjadi kuat berkali-kali lipat sehingga mampu menerobos tembok keburukan

Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? 
(QS. Az Zumar, Ayat 37)

Musuh manusia yang pertama kali dihadapinya adalah dirinya sendiri. Keberhasilan manusia ditentukan oleh keberhasilannya menundukkan dirinya. Disetiap ruang dan waktu pertentangan inilah yang dijumpai. Tidak ada urusan dengan usia, tempat tinggal, status sosial, tingkat kepandaian, jabatan. Mau rakyat jelata sampai elit-elit politik setiap saat harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bahkan semakin pandai dan semakin bijak manusia bukan lantas menghilangkan arena pertempuran ini. Melainkan akan menambah canggih model pertempuran, menambah tebal dan kuat tembok. Ujian yang terus bergulir tanpa henti sampai ada keputusan untuk menghentikanya dari Allah sendiri.
Posisi manusia hanyalah berusaha terus membangun tembok kebaikannya dengan bahan ketaatan, kesabaran, syukur, dan menjalani perjuangan secara sungguh-sungguh. Sambil mengharap kekuatan dari yang maha kuat.

Selasa, 16 April 2019

# Bersapa Sopan



Keindahan yang tercermin dalam lelaku sikap
Menjadi benerang saat keindahannya dapat terasakan
Yang terwujud dengan anggunnya dalam segala akhlak
Mengindah dalam laku gerak sesuai dengan dalam tapaknya

Lelakunya hadir disetiap hati yang mengindahi
Tercermin dari yang mengindah dalam menatapaki
Bersama dengan ridho yang diingini
Mengarti dalam setiap langkahnya nanti

Sapaan yang sopan dan perangainya yang santun
Menjadi wajihah cermin dari dalam hati
Mengindah dalam membersamai
Selalu menghadir dari dalam hati


# Sopan




Salah satu wujud keindahan akhlaq yang terpancar baik dari keimanan dan taqwa kita yaitu berbuah perilaku yang baik, nilai itu terpancar salah satunya berupa laku sopan dan santun dalam keseharian.

Sopan yang muncul dari kemuliaan akhlaq, merupakan satu dari sebuah tanda yang tercermin dari kedalaman pemahaman agama seseorang.

Coba rasakan, apa yang terasa jika suatu saat kita berjumpa dengan seseorang yang sopan sikapnya, seseorang baik lakunya dan seseorang yang baik tutur katanya? Pastinya akan selalu mencuri perhatian hati kita, dan Bahkan kitapun akan dibuat sopan dengan kesopanan orang yang menyapa kita, ia bukan ?

Karena kesopanan sikap menentukan nilai dari diri kita, yang mana semakin tinggi nilai kesopanan, berbanding juga akan semakin tinggi derajad kita saat dipandang orang lain dimata mereka dan bahkan dipandangan sang Khaliq kita. 

Namun akan juga sebaliknya, jika sikap akhlaq kita buruk dalam kesehariannya maka nilai rendah yang akan tervonis dalam diri kita dipandangan orang lain dan bahkan dipandangan oleh sang pencipta.

Karenanya, sikap akhlak yang bernama sopan ini merupakan sebuah cerminan dalam diri kita, cerminan yang ada pada disetiap rasa dada kita, cerminan yang terdapat dalam segala kenikmatan iman kita, yang juga akan menjadi nilai dalam diri kita dalam wujud  baik dan buruknya.

Sekarang, seberapa baik tingkatan sopan kita?
Sopan kita terhadap kedua orang tua kita?
Sopan kita terhadap orang yang lebih tua dengan kita ?
Sopan kita terhadap orang yang lebih muda dengan kita?
Sopan kita terhadap guru - guru, kerabat –kerabat, dan teman - teman kita?
Bahkan sopan kita terhadap pegemis, pemulung, pengamen dan kepada orang – orang  yang ternilai lebih rendah dari pada kita ?
Sudah sopankah kita?



Dalam hal ini apalah artinya ilmu agama yang luas, gelar yang panjang, kedudukan jabatan yang tinggi, kalau sikap sopanpun jauh dari nilai dalam diri kita. Maka tak akan terhina dengan ketidak sopanan sikap orang lain, tetapi kita akan menjadi sangat terhina kalau diri kita tidak memiliki sikap sopan kepada yang lainya.
  
“ Pilihlah sikap terbaik kita yaitu bertindak dan berbuat dengan penuh kesopanan “

Oleh karena itu, mari kita kendalikan sikap kita saat menyuruh, meminta tolong, menegur, mempersilahkan bahkan menolak sesuatu. Berikanlah nilai sopan yang baik yang mencerminkan akhlak yang baik dan juga bukti keimanan dan ketaqwaan kita.

mari kita mencoba menerapkannya :D





Sabtu, 06 April 2019

# Kedamaian hati


Sang raja yang ada didalam diri
Pengendali akan semua rasa yang diingini
Yang semestinya ia juga mengerti
Saat ia memiliki maha raja dijagad ini

Hati,
Yang hadirnya tak juga kasat dimata
Tetapi rasa yang bisa mengartikannya
Kendati ia mengenal Rabb pemilik semesta
Pastinya ia kan baik untuk selamanya

Hati,
Dalam segala tingkahnya
Kan menjadi penanggung jawab nantinya
Karena wujud iman dan taqwa yaitu darinya
Alangkah indahnya jika ia mengenal Rabb maha diraja

# Berbincang Hati



Hati, ibarat seorang raja yang mengatur dan memiliki bala tentara. Ia memberi perintah dan berbuat sesukan kehendanya, semuanya dibawah kekusaaanya. Mereka akan lurus pun menyeleweng itu karena mengikuti keinginanya, baik yang diperitahkan maupun yang dilarangnya.

Hati ibarat raja bagi jasad, sementara jasad ibarat bala tentaranya, yang ia akan siap sedia melaksanakan wujud perintah dan menerima petunjuk setiap saatnya. Setiap amalnya yang lurus bersumber dari hati yang merupakan niat dari sang raja, serta hati bertanggung jawab penuh atas segala bentuk laku dari sang jasad. Karena disetiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

Rasulullah  bersabda : “Ketahuilah, bahwa didalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati ”

Oleh karena itu, memperbaiki dan meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki jalan kebenaran kepada-Nya. Sementara memperiksa penyakit dan mengobatinya ialah tindakan yang paling penting yang harus dilakukan dalam setiap langkahnya.
Dalam pembagian hati, ada yang namanya hati yang sehat, yang didalamnya terdapat Rabb dalam hatinya, untuk menapak, berjalan didunia dan nantinya berjalan dan menapak di akhirat-Nya. sehingga kita kan selamat dari penghambaan selain-Nya, karena ia mengetahui bahwa penghambaan sejati untuk Allah atas dasar keinginan, cinta, pasrah, penyerahan diri, takut, dan mengharap rahmat dan ridho-Nya.

Kemudian hati yang sakit, yang didalamnya terdapat hati, tetapi ia terjangkit dan berpenyakit. Terkadang hatinya condong pada kebaikan, namun terkadang berat pada kemaksiatan. Didalamnya ada cinta, iman, ikhas, tawakah kepada-Nya. Tetapi dilain sisi ia memiliki sifat iri, ujub, hasad, sombang yang menjangkiti bersemayam dalam dirinya.


Kemudian hati yang mati, yang didalamnya tiada kehidupan. Ia tidak mengetahui sama sekali Rabb - Nya, dan ia akan berjalan sesuai dengan syahwatnya. Intinya nafsu menjadi pemimbingnya dalam hidup tanpa ia menganal dan mau mengenal Rabbnya, sungguh akan celaka dengan kehidupannya.

 “wujud tapak jalan meraih kebahagiaan ialah dengan memperhatikan, memperbaiki, dan mengobati penyakit-penyakit hati hingga ia benar dan selalu menaati-Nya. Karena orang yang beruntung ialah orang yang mendapatkan pertolongan-Nya, dan orang yang hina ialah orang yang terhalang dari pertolongan dan petunjuk-Nya ”.





Lantas dimana posisi hati kita ?
Tanyakan pada hati kita :D



Minggu, 31 Maret 2019

# The Real Idol



Siapa manusia yang menjadi favoritmu?
Siapa manusia yang paling dicintaimu ?
Siapa manusia yang paling dikagumimu ?
Tentunya setiap kita akan memiliki orang-orang yang menjadi favorit dalam hidup, menjadi kiblat dalam setiap tingkahnya, menjadi panutan cara hidupnya, menjadi acuan akhlak dan sopa santunnya.

Lalu siapa the real idol kita ?
Adakah Rasulullah kita tercinta sebagai tokoh favorit kita? sayang sekali kalau tidak.
Karena mengidolakan, menfavoritkannya merupakan kuwajiban untuk kita, dan juga menfollow (mengikuti) segala bentuk kesemuannya yang wajib diteladani adala bukti ngefansnya kita dengannya. 
Rasulullah SAW, diutus untuk menebar risalah keislaman dan sekaligus sebagai rahmatan lilalamiin (rahmat bagi seluruh alam) yang terdapat di dalam diri beliau penuh dengan nilai-nilai kebaikan dan contoh teladan utama. 
Bahkan coba bayangkan, sejak muda saat belum diangkat menjadi rasulullah, semua orang qurais menjuluki beliau sebagai “Al-amin” beliau manusia yang paling jujur dan sangat dapat dipercaya.


Dikuatkan juga oleh firman Allah [QS : Al- Ahzab – 21]
“ Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri rasulullah itu contoh ikutan baik, yaitu bagi orang yang senantiasa mengharapkan (keridhoan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat ”

Kehidupan dan pribadi beliau yang baik itu dijadikan Allah sebagai pola kehidupan yang harus ditiru oleh setiap manusia. Karenanya, keseluruhan perilaku hidup beliau merupakan contoh teladan bagi umat manusia. Dan Rasulullah dihadirkan perantara Allah untuk menurunkan Al-quran untuk disebarkan diseluruh dunia dan ar-risalah sebagai penuntun manusia menuju jalan yang lurus yang bernilai mulai yang diridhoi Allah. 
Yang kehidupannya merupakan wujud citra paling tinggi dalam seluruh aspek kehidupan manusia, tutur kata bahasanya yang merupakan puncak segala budi bahasa, yang risalahnya adalah ujung sega cita-cita yang mulia (Syurga Allah) untuk diraihnya.
Untuk itu, kita sebagai penge like serta pe follow setia beliau, wajib untuk meniru dan melakukannya dikehidupan sehari-hari hingga kita menjadi insan kamil.
Dan bagi siapa yang tidak ingin meniru pribadi mulia tersebut, jangan pernah sekalipun berhadap memeroleh kebahagiaan.

jadi, masih mikir – mikir tak menfavoritkan beliau ?


Sabtu, 30 Maret 2019

# Generasi Ulul Albab


     
Apa itu ulul albab ?
Ulul albab, adalah mereka orang-orang yang beriman dengan kesungguhan dalam hidup berdasarkan ajaran al-quran. disetiap hari, saat kita merasakan akan keberadaan Allah, untuk itulah yang menuntun hidup dalam hidayah yang juga  menuntun pada jalan iman.
Sesaat kita merasakan nikmat dipagi hari, saat membuka mata dalam menjalankan aktifitas yang itu merupakan salah satu nikmat Allah, yang menuntun kepada iman dan tentunya perlu disyukuri atasnya. yang Ia terbangun dari tidur panjangnya, jiwanya terpisah menguak cerita dengan mimpi indahnya, dan terbangun dengan tersatukannya antara jiwa dan raga kembali untuk bersyukur kepada-Nya.

Dalam firman-Nya didalam [Ali Imran: 190-191]: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". 

Tentunya, orang yang beriman, berakal dan berilmu yang senantiasanya untuk merenungi atas segala nikmat yang diberikan-Nya akan selalu memulai hari barunya dengan memikirkan dan berterima kasih kepada Allah semata. Karena cinta dan kasih sayang-Nya, ia akan menghargai harinya sebagai sebuah kesempatan  yang diberikan untuk meraih ridho dalam mengukir cerita dalam perjalanan yang akan ditempuh untuk mendekatkan kepada syurga-Nya.

Sehingga kapasitas kita menjadi seorang hamba yang mengingini sebagai predikat “ulul albab” tentunya harus di melaksanakan dengan sebaik – baiknya iman dalam mencintai-Nya, menyayangi-Nya dengan wujud taat dan patuh serta pasrah atas segala ketentuan- ketentuan-Nya. 

 “ Ia yang sungguh beriman, akan bertindak, berakhlak atas dasar Allah mengawasi setiap gerak langkah disetiap detik-Nya “.

Seorang hamba yang secara tulus mengarahkan pikiran kepada Allah akan selalu dituntun melihat kenikmatan – kenikmatan yang telah diberikan, sehingga dengan seksama ia akan merenungkan nikmat Allah yang telah diterimanya dan ia akan mengerti tidak ada yang lain selain Allah yang berkuasa dan yang memberi segala kenikmatan – kenikmatan atas-Nya.

“ 24 jam berhidup, bernafas dengan segala konsekuensi dan pengawasan Allah, akan membuat kita berbuat, bertindak, berperiaku dengan bijak “

Jadilah yang itu “Generasi ulul albab”

Senin, 25 Maret 2019

# ada IA


Saat hati menjadi tentram, ia yakin bahwa Ia bersamanya
Saat jiwa menjadi iman, ia yakin bahwa Ia sangat dekat dengannya
Keyakinan dan ketaatan akan membuah sebuah rasa
Menjadi sejuk dan tentram dalam segala indah bersama-Nya

Karena ketenangan hati akan menjadikan sejiwa
Berjalan dengan tegap penuh rasa dalam cinta
Membumbung tinggi kan menjadi asa
Bersama rasa cinta kedalam qolbu jiwa

Ia ada untuk segala
Dengan taat kan terasa
Meneduh merdu bersama sejiwa
Karena semua ada cinta

# Tenang, ada Allah


Pernah mendengar kisah Nabi Musa dan bala tentara fir’aun ?
Orang – orang beriman yang yakin pertolongan Allah, ia tidak akan pernah berharap dan ia tidak akan menunggu dengan kepasrahan untuk menantikan bagaimana Allah menyelesaikan masalahnya sesuai yang diinginkannya.
Cerita Nabi Musa merupakan contoh dari suatu peristiwa, yang kala itu Nabi Musa dan kaum Bani Israil meninggalkan mesir untuk menyelamatkan diri dari kekejaman fir’aun, fir’au dan pasukannya berkeinginan untuk membrangus bumi hanguskan Nabi Musa dan Bani Israil yang ada, terus berlari sampailah kepinggir laut, mungkin sebagian dari kita akan merasa terpojokkan merasa ketakutan dan hilang harapan tetapi mungkin hal itu hanya dirasai jika kita yang memiliki iman yang lemah, tetapi dalam kisahnya Nabi Musa berbeda, beliau berkata yang di firmankan didalam Al-Quran 

[Asy-Syura : 62] “Sesungguhnya, tuhanku besertaku, kelak dia akan memberikan petunjuk kepadaku”. 

Demikian Nabi Musa menunjukan keimanannya kepada Allah, bahwa ia yakin Allah akan menolong orang – orang yang beriman atas-Nya.
Kemudian dengan ikhtiar dan penuh keyakinan, tongkat Nabi Musa dihentakkan pada pada lautan tersebut dan seketikan lautan tersingkap terbelah menjadi dataran hingga ujung dari lautan tersebut, lantas Nabi Musa dan kaumnya bergegas melintasinya sampai ke ujung daratan lautan di ujungnya, kemudian  fir’aun dan bala tentaranya mengikuti dalam pengejarannya, kemudian Allah mengazabnya dengan menutup lautan tersebut menenggelagamkan dan memusnahkan fir’aun dan bala tentarannya di tengah lautan tersebut.
Oleh karenanya dalam menyikapi hal tersebut, pada saat kita menyakini dengan iman dengan segala pertolongan Allah itu ada nyatanya, dan Allah itu dekat selalu membersamai kita, maka tenanglah Allah pasti bersama orang orang yang bertawqa atas-Nya.
Didalam Al-quran juga difirmankan : 

[Q:S : Muhammad 07] “ Hai orang – orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

Sehingga orang – orang yang beriman dan dekat dengan Allah, yang menjadikan Allah sebagai pelindung, yang menjadikan Allah sebagai penyandarnya, yakin dengan seyakin – seyakinnya bahwa Allah akan menolong kita yang bertaat ikhlas kepadannya, dan kita juga mengerti dan berusaha untuk menebar kebaikan akan diberikan perlindungan dan pertolongan terhadap kita.

“ Berdekaplah dengan segala cinta untuk menuai rasa cinta dari cinta-Nya “




Kuncinya ketaatan adalah nilai yang akan menggantikan keburukan - keburukan yang pernah kita Kerjakan, dengan menanamkan niat terbaik dalam mengarungi nilai kehidupan untuk selalu bertaat serta ketenangan hati kita saat bertaat dengan baik karena Allah ada untuk kita yang bertaat.







Minggu, 24 Februari 2019

# Memakna hidup



Sekilah terbersit dalam renungan diri mengapa kita hadir didunia ini? Dengan sifat, warna, rupa yang juga berbeda – beda? Allah menciptakan kita sebagai penghuni serta pelaku dalam berhidup dan memakna dalam hidup, yang secara hakikatnya menginginkan kita menjadi “kholifah” yang ingin dihadirkan untuk mengisi dan menghiasai dunia yang telah ditetepkannya.

Kemudian untuk apa kita berhidup? Yang selayaknya takdir sudah teriringi saat kita tercipta 40 hari pada rahim orang tua kita, terlahir dan tumbuh dengan jalan takdirnya masing – masing, yang memang secara kodrat telah ditetapkan-Nya.

Dan apa tujuan dalam berhidup? Yang semestinya saat kita mengerti dalam segala bentuk rasa yang diciptakkanNya, dalam segala bentuk cinta yang terbuai indah mesra dalam setiap hadirNya, kita hadir didunia bermakna sebagai persinggahan sementara yang nantinya akan menempuh perjalanan panjang dan tempat kekal sekekal – kekalnya dan seburuk atau sebaik – baiknya, terlihat bagaimana kita dalam memakna dalam hidup. Saat kita mengerti dan memahami itu semua, maka dalam setiap laku kita akan kita jaga, dalam setiap mulut kita akan kita jaga, dan setiap fikir kita akan selalu kita jaga, yang nantinya akan mempesona dan dipandang sempuna oleh-Nya.

Untuk itu, kita yang telah dihadirkan didalam dunia ini yang kemudian mengerti hakikat dalam makna hidup yang diberikan oleh kita, maka akan sewajarnya jika wajib bagi kita untuk selalu taat, patuh dan juga berserah pada-Nya.

Kamis, 21 Februari 2019

# Serasa



Merasai dalam kehendak yang ikut mengadu
Yang ada didada yang terasa menggebu
Merdu bersama sahutan jiwa dalam mengadu
Yang ada didalam setiap rasa menyahdu

Baru serasa,
Tapak yang merasai dalam keindahan rasa
Berpijak tulus dan ikhlas bersama sejiwa
Mengingini serasa yang membersama
Mengikat indah bersama juga dalam taqwa 

Baru serasa,
Jadikan rasa itu terus ada tanpa hentinya
Menghujam menjadi hujjah didalam jiwa
Tuk membersama dalam keindahan-Nya
Bersama dalam ikatan rasa luar biasa