Sebelum
melakukan apapun dalam kehidupan manusia dihalangi oleh tembok besar yaitu
dirinya sendiri. Persyaratan niat yang terwujud adalah dengan menerobos tembok
tersebut. Ini terjadi dalam segala aspek kehidpuan, apapun itu, baik soal iman,
kelakuan, bicara, pilihan dan seluruh proses kehidupan. Penerobosan bisa
berjalan lancar atau berjalan sangat sukar bergantung ketebalan tembok,
kekuatan bahannya, dan tentu saja daya tembus diri. Tebal tipisnya tembok,
bahannya, dan daya tembus diri sangat dinamis dan kadang-kadang membingungkan
kalau tidak jeli melihatnya. Ada dua kemungkinan elemen peyusun tembok. Pertama
tembok dengan bahan kebaikan dan tembok dengan bahan keburukan. Tembok kebaikan
akan menemui daya tembus keburukan dan sebaliknya tembok keburukan akan menemui
daya tembus kebaikan. Tembok yang pertama membatasi manusia untuk tidak berbuat
buruk. Tersusun dari bahan-bahan tauhid, akidah, akhlak, iman, akal.
Elemen-elemen ini tersususun sedemikian rupa sehingga membentuk pengendalian
diri guna mengurung potensi daya tembus keburukan. Tembok yang kedua berfungsi
memenjarakan daya tembus kebaikan. Mengantarkan manusia pada keburukan.
Tersusun dari bahan kekufuran, kalalaian, kemalasan, syahwat. Kedua jenis
tembok ini silih berganti mengiringi perjalan hidup manusia.
Tembok kebaikan
akan kita temui ketika datang niat melakukan keburukan. Dan musuh kebaikan
adalah keburukan. Maka pertentangan yang terjadi adalah pertentangan daya
tembus kebukrukan melawan tembok kebaikan. Perubuatan baik akan terlaksana manakala
tembok tersusun kokoh dan mempunyai ketebalan yang cukup untuk menahan
keinginan buruk yang akan meniadakan kebaikan. Apabila manusia mampu mengurung
potensi tersebut maka terwujudlah perilaku kebaikan. Begitu juga ketika
temboknya tipis, strukturnya kacau tidak saling menguatkan. Roboh dan hancurlah
tembok kebaikan,melesatlah perbuatan jahat. Produknya adalah perilaku-perilaku
yang berifat merusak.
Tembok keburukan
berdiri ketika kita mempunyai niat melaksanakan kebaikan. Menyelubungi dan
memenjarakan daya tembus kebaikan yang akan kita nyatakan. Seberapa tebalnya
tembok ini berbanding lurus dengan ongkos yang kita bayarkan untuk
membangunnya. Ongkosnya adalah kemaksiatan yang terus-menerus, kemalasan
berfikir, kesombongan, amarah, semuanya membantu mempertebal dan memperkokoh
bangunan tembok keburukan. Setiap hal tersebut kita laksanakan bertambah
kuatlah temboknya, yang berujung pada terkurungnya potensi kebaikan yang ada
pada manusia. Semakin tebal dan kokoh tembok berarti semakin besar daya yang dibutuhkan
untuk menembusnya. Tetapi ada suatu fase dimana daya tembus kebaikan manusia
sudah tidak ada gunya lagi, karena begitu kuatnya tembok. Seperti yang Allah
firmankan
Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua
golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah
membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah
kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?
Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan
(untuk memberi petunjuk) kepadanya.
(QS. An Nisaa', Ayat 88)
(QS. An Nisaa', Ayat 88)
Namun ada juga
suatu keadaan dimana tiba-tiba daya tembus kebaikan menjadi kuat berkali-kali
lipat sehingga mampu menerobos tembok keburukan
Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh
Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha
Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?
(QS. Az Zumar, Ayat 37)
(QS. Az Zumar, Ayat 37)
Musuh manusia
yang pertama kali dihadapinya adalah dirinya sendiri. Keberhasilan manusia
ditentukan oleh keberhasilannya menundukkan dirinya. Disetiap ruang dan waktu
pertentangan inilah yang dijumpai. Tidak ada urusan dengan usia, tempat
tinggal, status sosial, tingkat kepandaian, jabatan. Mau rakyat jelata sampai
elit-elit politik setiap saat harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bahkan
semakin pandai dan semakin bijak manusia bukan lantas menghilangkan arena
pertempuran ini. Melainkan akan menambah canggih model pertempuran, menambah
tebal dan kuat tembok. Ujian yang terus bergulir tanpa henti sampai ada keputusan
untuk menghentikanya dari Allah sendiri.
Posisi manusia
hanyalah berusaha terus membangun tembok kebaikannya dengan bahan ketaatan,
kesabaran, syukur, dan menjalani perjuangan secara sungguh-sungguh. Sambil
mengharap kekuatan dari yang maha kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar