KUAT MENJERAT

kokohnya sekuat tekad
memberi rasa menguat menjerat

Minggu, 09 Juni 2019

# Dirimu Vs Dirimu



Sebelum melakukan apapun dalam kehidupan manusia dihalangi oleh tembok besar yaitu dirinya sendiri. Persyaratan niat yang terwujud adalah dengan menerobos tembok tersebut. Ini terjadi dalam segala aspek kehidpuan, apapun itu, baik soal iman, kelakuan, bicara, pilihan dan seluruh proses kehidupan. Penerobosan bisa berjalan lancar atau berjalan sangat sukar bergantung ketebalan tembok, kekuatan bahannya, dan tentu saja daya tembus diri. Tebal tipisnya tembok, bahannya, dan daya tembus diri sangat dinamis dan kadang-kadang membingungkan kalau tidak jeli melihatnya. Ada dua kemungkinan elemen peyusun tembok. Pertama tembok dengan bahan kebaikan dan tembok dengan bahan keburukan. Tembok kebaikan akan menemui daya tembus keburukan dan sebaliknya tembok keburukan akan menemui daya tembus kebaikan. Tembok yang pertama membatasi manusia untuk tidak berbuat buruk. Tersusun dari bahan-bahan tauhid, akidah, akhlak, iman, akal. Elemen-elemen ini tersususun sedemikian rupa sehingga membentuk pengendalian diri guna mengurung potensi daya tembus keburukan. Tembok yang kedua berfungsi memenjarakan daya tembus kebaikan. Mengantarkan manusia pada keburukan. Tersusun dari bahan kekufuran, kalalaian, kemalasan, syahwat. Kedua jenis tembok ini silih berganti mengiringi perjalan hidup manusia.

Tembok kebaikan akan kita temui ketika datang niat melakukan keburukan. Dan musuh kebaikan adalah keburukan. Maka pertentangan yang terjadi adalah pertentangan daya tembus kebukrukan melawan tembok kebaikan. Perubuatan baik akan terlaksana manakala tembok tersusun kokoh dan mempunyai ketebalan yang cukup untuk menahan keinginan buruk yang akan meniadakan kebaikan. Apabila manusia mampu mengurung potensi tersebut maka terwujudlah perilaku kebaikan. Begitu juga ketika temboknya tipis, strukturnya kacau tidak saling menguatkan. Roboh dan hancurlah tembok kebaikan,melesatlah perbuatan jahat. Produknya adalah perilaku-perilaku yang berifat merusak.

Tembok keburukan berdiri ketika kita mempunyai niat melaksanakan kebaikan. Menyelubungi dan memenjarakan daya tembus kebaikan yang akan kita nyatakan. Seberapa tebalnya tembok ini berbanding lurus dengan ongkos yang kita bayarkan untuk membangunnya. Ongkosnya adalah kemaksiatan yang terus-menerus, kemalasan berfikir, kesombongan, amarah, semuanya membantu mempertebal dan memperkokoh bangunan tembok keburukan. Setiap hal tersebut kita laksanakan bertambah kuatlah temboknya, yang berujung pada terkurungnya potensi kebaikan yang ada pada manusia. Semakin tebal dan kokoh tembok berarti semakin besar daya yang dibutuhkan untuk menembusnya. Tetapi ada suatu fase dimana daya tembus kebaikan manusia sudah tidak ada gunya lagi, karena begitu kuatnya tembok. Seperti yang Allah firmankan

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. 
(QS. An Nisaa', Ayat 88)

Namun ada juga suatu keadaan dimana tiba-tiba daya tembus kebaikan menjadi kuat berkali-kali lipat sehingga mampu menerobos tembok keburukan

Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? 
(QS. Az Zumar, Ayat 37)

Musuh manusia yang pertama kali dihadapinya adalah dirinya sendiri. Keberhasilan manusia ditentukan oleh keberhasilannya menundukkan dirinya. Disetiap ruang dan waktu pertentangan inilah yang dijumpai. Tidak ada urusan dengan usia, tempat tinggal, status sosial, tingkat kepandaian, jabatan. Mau rakyat jelata sampai elit-elit politik setiap saat harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bahkan semakin pandai dan semakin bijak manusia bukan lantas menghilangkan arena pertempuran ini. Melainkan akan menambah canggih model pertempuran, menambah tebal dan kuat tembok. Ujian yang terus bergulir tanpa henti sampai ada keputusan untuk menghentikanya dari Allah sendiri.
Posisi manusia hanyalah berusaha terus membangun tembok kebaikannya dengan bahan ketaatan, kesabaran, syukur, dan menjalani perjuangan secara sungguh-sungguh. Sambil mengharap kekuatan dari yang maha kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar