KUAT MENJERAT

kokohnya sekuat tekad
memberi rasa menguat menjerat

Rabu, 19 Juni 2019

# Patuh mengabdi kepada-Nya



Dalam hubungannya kita sebagai seorang hamba, tentunya patuh dalam mengabdi diri kepada Allah merupakan hal yang wajib dan patut untuk senantiasa kita jaga, karena Allah menyabdakan dalam Al-quran serta menggaris bawahi pentingnya kualitas kedudukan bagi orang beriman, dalam (Q:S Al – Baqarah 2 : 136)

“ Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya "

Karenanya, keikhlasan sejati membutuhkan ketundukan serta penyerahan total kepada Allah, serta taat dan patuh dengan segalanya kepada-Nya.

Patuh, ikhlas mengabdi kepada Allah dengan menyakini dengan keimanan yang melekat pada diri dalam dada kita, berbaik sangka penuh keyakinan, maka sewajarnya hal yang terbaik akan Allah berikan saat kita berbenar taat dan patuh, untuk itu mengabdi hanya kepada-Nya menjadi titik awal syarat untuk seorang hamba yang beriman memiliki-Nya dalam hati dan seluruh jiwa.

Namun, seseorang yang ridho atas ketentuan Allah, tetapi hanya sekedar bersyukur dan berserah diri kepada-Nya dalam kondisi tertentu, tidak dapat dikatakan sebaik-baiknya berserah, jika kita menjadi pemberontak kedalam ketidak patuhan saat kondisinya mulai berubah.

Coba kita lihat, ada suatu contoh orang yang memiliki hubungan berbisnis yang baik dan omsetnya selalu meningkat, kemudian orang tersebut mengatakan bahwa Allah-lah yang mengizinkan dan merindhoi keberuntungannya. Akan tetapi, saat segala bisnisnya memburuk ia tiba-tiba berbalik dan melupakan kepatuhanya kepada Allah, membangkang atas segala utusannya dan bahkan ia mulai menyalahkan Allah. Ini sebagai contoh jika kita tidak mengimani dan mempercayai Allah atas segala kehendaknya dengan sebenar benarnya, tanpa harus memperdulikan apakah yang terjadi akan baik / buruknya, apakah yang terjadi tampak menolong / menjatuhkannya.

Seseorang hamba akan dipandang spesial kepada Allah, saat kita dapat melakukan kebaikan-kebaikan dengan ikhlas dan bahkan yang hukumnya sunah menjadikan wajib untuk kita, contohnya sholat dhuha, sholat tahajud, bersedekah yang sering kita lakukan, itu yang akan menjadi Allah menjadikan kita spesial. Sehingga keindahan yang tak tersangka kadang menghampiri dengan tak terkira dan memberkah atas-Nya.

” kuncinya, berbaktilah, mengabdilah, patuhlah dengan sebaik- baik hamba, hingga Ia bangga dengan kita ”

Pada intinya, pada saat kita sadar bahwa hidup yang kita tapaki akan berujung ditempat yang kekal abadi, disaat itulah apa yang telah kita lakukan akan dibalas sama seperti yang kita kerjakan.

Berbakti, mengabdi kepada Allah dengan sebenar-benar iman dengan setinggi-tingginya taqwa, yakinlah akan berbuah seperti apa yang kita tanamkan.






# Ingatkan aku Ya Rabb

Ingatkan aku ya Rabb,
Saat hatiku lelah untuk patuh memohon ampunan
Saat langkahku terasa berat untuk berjalan dari cobaan
Saat air mata terasa terlalu sering mengeluh tanpa kesadaran
Saat syukur terlupa untuk kuucapkan
Saat doa terlepas untuk kupanjatkan

Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa kasih-Mu adalah lebih dari kesempitan
Bahwa karunia-Mu selalu dapat kurasakan
Bahwa engkau tak pernah letih saat aku membutuhkan

Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa hidup bukanlah suatu keabadian
Bahwa bekalku belumlah cukup untuk kubanggakan
Bahwa cinta bukanlah akhir dari suatu permulaan

Ingatkan aku ya Rabb,
Untuk selalu patuh mengabdi tanpa keluhan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar