KUAT MENJERAT

kokohnya sekuat tekad
memberi rasa menguat menjerat

Sabtu, 06 April 2019

# Berbincang Hati



Hati, ibarat seorang raja yang mengatur dan memiliki bala tentara. Ia memberi perintah dan berbuat sesukan kehendanya, semuanya dibawah kekusaaanya. Mereka akan lurus pun menyeleweng itu karena mengikuti keinginanya, baik yang diperitahkan maupun yang dilarangnya.

Hati ibarat raja bagi jasad, sementara jasad ibarat bala tentaranya, yang ia akan siap sedia melaksanakan wujud perintah dan menerima petunjuk setiap saatnya. Setiap amalnya yang lurus bersumber dari hati yang merupakan niat dari sang raja, serta hati bertanggung jawab penuh atas segala bentuk laku dari sang jasad. Karena disetiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

Rasulullah  bersabda : “Ketahuilah, bahwa didalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu ialah hati ”

Oleh karena itu, memperbaiki dan meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki jalan kebenaran kepada-Nya. Sementara memperiksa penyakit dan mengobatinya ialah tindakan yang paling penting yang harus dilakukan dalam setiap langkahnya.
Dalam pembagian hati, ada yang namanya hati yang sehat, yang didalamnya terdapat Rabb dalam hatinya, untuk menapak, berjalan didunia dan nantinya berjalan dan menapak di akhirat-Nya. sehingga kita kan selamat dari penghambaan selain-Nya, karena ia mengetahui bahwa penghambaan sejati untuk Allah atas dasar keinginan, cinta, pasrah, penyerahan diri, takut, dan mengharap rahmat dan ridho-Nya.

Kemudian hati yang sakit, yang didalamnya terdapat hati, tetapi ia terjangkit dan berpenyakit. Terkadang hatinya condong pada kebaikan, namun terkadang berat pada kemaksiatan. Didalamnya ada cinta, iman, ikhas, tawakah kepada-Nya. Tetapi dilain sisi ia memiliki sifat iri, ujub, hasad, sombang yang menjangkiti bersemayam dalam dirinya.


Kemudian hati yang mati, yang didalamnya tiada kehidupan. Ia tidak mengetahui sama sekali Rabb - Nya, dan ia akan berjalan sesuai dengan syahwatnya. Intinya nafsu menjadi pemimbingnya dalam hidup tanpa ia menganal dan mau mengenal Rabbnya, sungguh akan celaka dengan kehidupannya.

 “wujud tapak jalan meraih kebahagiaan ialah dengan memperhatikan, memperbaiki, dan mengobati penyakit-penyakit hati hingga ia benar dan selalu menaati-Nya. Karena orang yang beruntung ialah orang yang mendapatkan pertolongan-Nya, dan orang yang hina ialah orang yang terhalang dari pertolongan dan petunjuk-Nya ”.





Lantas dimana posisi hati kita ?
Tanyakan pada hati kita :D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar