Dalam hubungannya kita sebagai seorang hamba, tentunya patuh dalam
mengabdi diri kepada Allah merupakan hal yang wajib dan patut untuk senantiasa
kita jaga, karena Allah menyabdakan dalam Al-quran serta menggaris bawahi
pentingnya kualitas kedudukan bagi orang beriman, dalam (Q:S Al – Baqarah 2
: 136)
“ Katakanlah (hai orang-orang
mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami,
dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak
cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan
kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara
mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya "
Karenanya, keikhlasan sejati membutuhkan
ketundukan serta penyerahan total kepada Allah, serta taat dan patuh dengan segalanya
kepada-Nya.
Patuh, ikhlas mengabdi kepada Allah
dengan menyakini dengan keimanan yang melekat pada diri dalam dada kita,
berbaik sangka penuh keyakinan, maka sewajarnya hal yang terbaik akan Allah
berikan saat kita berbenar taat dan patuh, untuk itu mengabdi hanya kepada-Nya
menjadi titik awal syarat untuk seorang hamba yang beriman memiliki-Nya dalam
hati dan seluruh jiwa.
Namun, seseorang yang ridho atas
ketentuan Allah, tetapi hanya sekedar bersyukur dan berserah diri kepada-Nya
dalam kondisi tertentu, tidak dapat dikatakan sebaik-baiknya berserah, jika
kita menjadi pemberontak kedalam ketidak patuhan saat kondisinya mulai berubah.
Coba kita lihat, ada suatu contoh
orang yang memiliki hubungan berbisnis yang baik dan omsetnya selalu meningkat,
kemudian orang tersebut mengatakan bahwa Allah-lah yang mengizinkan dan
merindhoi keberuntungannya. Akan tetapi, saat segala bisnisnya memburuk ia
tiba-tiba berbalik dan melupakan kepatuhanya kepada Allah, membangkang atas
segala utusannya dan bahkan ia mulai menyalahkan Allah. Ini sebagai contoh jika
kita tidak mengimani dan mempercayai Allah atas segala kehendaknya dengan
sebenar benarnya, tanpa harus memperdulikan apakah yang terjadi akan baik / buruknya,
apakah yang terjadi tampak menolong / menjatuhkannya.
Seseorang hamba akan dipandang
spesial kepada Allah, saat kita dapat melakukan kebaikan-kebaikan dengan ikhlas
dan bahkan yang hukumnya sunah menjadikan wajib untuk kita, contohnya sholat
dhuha, sholat tahajud, bersedekah yang sering kita lakukan, itu yang akan
menjadi Allah menjadikan kita spesial. Sehingga keindahan yang tak tersangka
kadang menghampiri dengan tak terkira dan memberkah atas-Nya.
” kuncinya, berbaktilah,
mengabdilah, patuhlah dengan sebaik- baik hamba, hingga Ia bangga dengan kita ”
Pada intinya, pada saat kita sadar bahwa hidup yang kita
tapaki akan berujung ditempat yang kekal abadi, disaat itulah apa yang telah
kita lakukan akan dibalas sama seperti yang kita kerjakan.
Berbakti, mengabdi kepada Allah
dengan sebenar-benar iman dengan setinggi-tingginya taqwa, yakinlah akan
berbuah seperti apa yang kita tanamkan.
# Ingatkan aku Ya Rabb
Ingatkan aku ya Rabb,
Saat hatiku lelah untuk patuh memohon ampunan
Saat langkahku terasa berat untuk berjalan
dari cobaan
Saat air mata terasa terlalu sering mengeluh
tanpa kesadaran
Saat syukur terlupa untuk kuucapkan
Saat doa terlepas untuk kupanjatkan
Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa kasih-Mu adalah lebih dari kesempitan
Bahwa karunia-Mu selalu dapat kurasakan
Bahwa engkau tak pernah letih saat aku
membutuhkan
Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa hidup bukanlah suatu keabadian
Bahwa bekalku belumlah cukup untuk kubanggakan
Bahwa cinta bukanlah akhir dari suatu permulaan
Ingatkan aku ya Rabb,
Untuk selalu patuh mengabdi tanpa keluhan