Yang telah ditetapkan adalah yang terbaik
Berfikir itu yang seharusnya kita kukuhkan
Hal yang ditetapkan pasti terbaik baik setiap hambanya
Syukur dan tulus yang seharusnya kita haturkan
06 Ramadhan 1441 H / 29 April 2020
KUAT MENJERAT
kokohnya sekuat tekad
memberi rasa menguat menjerat
Selasa, 28 April 2020
Senin, 27 April 2020
PEKAN PAGI INI
Gemricik air melantun dalam sahajanya
Ditemani kicau burung yang juga ikut bersenandung
Pagi ini serasa nikmatatas semua yang telah di haturkanNya
Hati selalu berguman dalam jiwa
Bagaimana kita tidak selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberi
Sebegitu manisnya semua yang ada didalam diri
Pekan pagi ini,
Merindu menyelimuti
Kenikmatan menghampiri
Kesyukuran yang harus terberi
05 Ramadhan 1441 / 28 April 2020
MERASAKAN SAMA
Hati yang serasa dalam setiap menjalani kehidupan ini
Dalam menapaki setiap hembus bernafas dari dahulu
Diri ini dilahirkan dari darah dagingnya
Merasakan hal yang sama apa yang sekarang dirasakannya
Saat genggaman itu yang kini tak erat seperti yang biasanya
Senyuman itu tak sumringah yang selaras terhadirkannya
Tetapi, indah cahaya itu sekarang terpancar
Keindahan cahaya dalam dekapan mesranya
Keindahan menyata dalam setiap harinya
Karena hati ini yang sekarang merasakan yang sama
04 Ramadhan 1441 H / 27 April 2020
Sabtu, 25 April 2020
KEINDAHAN
Kan selalu terkenang, kegembiraan yang terbersit pada hasrat diri seperti malam ini
Rasa itu menyata dalam benak yang ada dalam setiap rasa
Beriring merdu detak jantung menari penuh tawa
Rasa, untuk hari ini dan selamanya
KEINDAHAN,
Terasa begitu sempurna
Indah dalam raga
Sejuk dalam jiwa
Mengiring didalam dada
KEINDAHAN,
Lantunkan selalu
Senyum indahmu
Selamanya
02 Ramadhan 1441 H
Jumat, 24 April 2020
# SETIA
Rangkulan dan dekapan yang selalu mengahangat di tengah dinginya dunia
Berserah berpasarah mengikuti indahnya lantunan keindahan dari Nya
Suatu saat nanti akan tiba keindahan menyata
Suasana berseri cerita senyum keindahan wajahnya
SETIA
Ia dengan semua ketetapannya
Menggelora dalam lubuk dada
Tertata ikhlas penuh mesra
Mengalir indah keseluruh jiwa
SETIA
Jadikan untuk selamanya.
01 Ramadhan 1441 H
Rabu, 19 Juni 2019
# Patuh mengabdi kepada-Nya
Dalam hubungannya kita sebagai seorang hamba, tentunya patuh dalam
mengabdi diri kepada Allah merupakan hal yang wajib dan patut untuk senantiasa
kita jaga, karena Allah menyabdakan dalam Al-quran serta menggaris bawahi
pentingnya kualitas kedudukan bagi orang beriman, dalam (Q:S Al – Baqarah 2
: 136)
“ Katakanlah (hai orang-orang
mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami,
dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak
cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan
kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara
mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya "
Karenanya, keikhlasan sejati membutuhkan
ketundukan serta penyerahan total kepada Allah, serta taat dan patuh dengan segalanya
kepada-Nya.
Patuh, ikhlas mengabdi kepada Allah
dengan menyakini dengan keimanan yang melekat pada diri dalam dada kita,
berbaik sangka penuh keyakinan, maka sewajarnya hal yang terbaik akan Allah
berikan saat kita berbenar taat dan patuh, untuk itu mengabdi hanya kepada-Nya
menjadi titik awal syarat untuk seorang hamba yang beriman memiliki-Nya dalam
hati dan seluruh jiwa.
Namun, seseorang yang ridho atas
ketentuan Allah, tetapi hanya sekedar bersyukur dan berserah diri kepada-Nya
dalam kondisi tertentu, tidak dapat dikatakan sebaik-baiknya berserah, jika
kita menjadi pemberontak kedalam ketidak patuhan saat kondisinya mulai berubah.
Coba kita lihat, ada suatu contoh
orang yang memiliki hubungan berbisnis yang baik dan omsetnya selalu meningkat,
kemudian orang tersebut mengatakan bahwa Allah-lah yang mengizinkan dan
merindhoi keberuntungannya. Akan tetapi, saat segala bisnisnya memburuk ia
tiba-tiba berbalik dan melupakan kepatuhanya kepada Allah, membangkang atas
segala utusannya dan bahkan ia mulai menyalahkan Allah. Ini sebagai contoh jika
kita tidak mengimani dan mempercayai Allah atas segala kehendaknya dengan
sebenar benarnya, tanpa harus memperdulikan apakah yang terjadi akan baik / buruknya,
apakah yang terjadi tampak menolong / menjatuhkannya.
Seseorang hamba akan dipandang
spesial kepada Allah, saat kita dapat melakukan kebaikan-kebaikan dengan ikhlas
dan bahkan yang hukumnya sunah menjadikan wajib untuk kita, contohnya sholat
dhuha, sholat tahajud, bersedekah yang sering kita lakukan, itu yang akan
menjadi Allah menjadikan kita spesial. Sehingga keindahan yang tak tersangka
kadang menghampiri dengan tak terkira dan memberkah atas-Nya.
” kuncinya, berbaktilah,
mengabdilah, patuhlah dengan sebaik- baik hamba, hingga Ia bangga dengan kita ”
Pada intinya, pada saat kita sadar bahwa hidup yang kita
tapaki akan berujung ditempat yang kekal abadi, disaat itulah apa yang telah
kita lakukan akan dibalas sama seperti yang kita kerjakan.
Berbakti, mengabdi kepada Allah
dengan sebenar-benar iman dengan setinggi-tingginya taqwa, yakinlah akan
berbuah seperti apa yang kita tanamkan.
# Ingatkan aku Ya Rabb
Ingatkan aku ya Rabb,
Saat hatiku lelah untuk patuh memohon ampunan
Saat langkahku terasa berat untuk berjalan
dari cobaan
Saat air mata terasa terlalu sering mengeluh
tanpa kesadaran
Saat syukur terlupa untuk kuucapkan
Saat doa terlepas untuk kupanjatkan
Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa kasih-Mu adalah lebih dari kesempitan
Bahwa karunia-Mu selalu dapat kurasakan
Bahwa engkau tak pernah letih saat aku
membutuhkan
Ingatkan aku ya Rabb,
Bahwa hidup bukanlah suatu keabadian
Bahwa bekalku belumlah cukup untuk kubanggakan
Bahwa cinta bukanlah akhir dari suatu permulaan
Ingatkan aku ya Rabb,
Untuk selalu patuh mengabdi tanpa keluhan
Minggu, 16 Juni 2019
# Keindahan dengan-Nya
Orang beriman tahu, orang yang
hidup dengan ajaran dan patokan al-quran dan sunnah akan mengetahui bagaimana
menghargai hal yang indah untuk keindahan. Baik keindahan fisik maupun dalam hati,
yang ia tercermin dari perilaku yang baik, bertutur yang baik, berbusana yang
baik merajut kedalam akhlak yang baik.
Kita sebagai seorang muslim yang memiliki kesadaran akan iman, keindahan
yang tercipta didunia oleh manusia terasa sangatlah biasa saja dibandingkan keindahan
yang tercipta dari keindahan-Nya.
Coba rasakan, embun dipagi hari dengan matahari bersinar mengiringi serta
saat malam hari datang bersama keindahan gemerlap berbintang, itulah wujud
kecil keindahan yang Allah ciptakan yang begitu indah dan agung tiada taranya.
Oleh sebab itu, kerinduan akan
keindahan orang yang sungguh beriman bukanlah kemewahan - kemewahaan sesaat
dunia, tetapi ia akan menciptakan lingkunganya dengan tempat pengingat keindahan
akan syurga-Nya.
Tentu saja syurga merupakan tempat
terindah yang Allah ciptakan untuk orang – orang yang beriman dan juga bertaqwa
kepada-Nya. yang bahkan fikiran kita untuk membayangkannya pun tidak sanggup,
untuk menggambarkan keindahan syurga-Nya, karena syurga ibarat pekerjaan seni
yang ia jauh lebih indah dari apa yang dibayangkan manusia dengan pandangan keindahan
yang sempurna.
Sehingga, seorang muslim yang hidup
sesuai ajaran al-quran dan sunnah akan menggunakan semua yang dimilikinya untuk
memperindah nilai, sikap, rasa yang terbaik untuk Allah Azzawajallah.
untuk itu, berlomba dalam kebaikan
dalam memperindah keindahan sikap kita kepada manusia dan iman kita kepada
Allah adalah syarat wajib dalam menambah nilai keindahan yang akan tercipta.
“ Karena keidahan yang
terindah saat buah akhlak menjadi iman, buah iman menjadi taqwa dan buah taqwa
menjadi syurga “
Keindahan didunia
Keindahan di akhirat
CintaNya di dunia
CintaNya di akhirat
Bersama, keindahan –Nya.
Jumat, 14 Juni 2019
# Cahaya Terpuji
Sejarah alam
semesta ini tidak bisa lepas dari apa yang disebut Cahaya Terpuji. Suatu cahaya
yang Allah ciptakan dari cahaya-Nya sendiri. Suatu prima causa adanya alam semesta. Allah yang Ahad, tunggal tidak ada
apapun kecuali Allah. Lalu memancarkan suatu cahaya yang sangat ia cintai, Nur
Muhammad. Karena sangat cintanya dengan cahaya itu lalu dari cahaya itu
direntangkanlah menjadi alam semesta, atau oleh para ilmuwan dibahasakan dengan
big bang. Terbentuklah semesta dan
segala isinya. Inilah awal kehidupan, dari cahaya yang terpuji. Tidak lain
Allah menciptakan semua ini atas dasar cinta. Cinta kepada apa yang Dia
ciptakan.
Tiada pernah
lelah Allah memelihara apa yang sudah dibentangkannya. Direkayasa-Nya dari
cahaya itu suatu entitas-entitas yang belum pernah ada sebelumnya. Dijadikannya
matahari-matahari yang jumlahnya milyaran, kemudian munculah padatan-padatan
planet, dihimpun dalam suatu sistem besar, mega konstruksi jagat raya, yang
ketika kita arahkan mata keatas langit pada malam hari, terlihatlah sebagian
kecil konstelasi indah tersebut.
Di pojokan jagat
raya yang sangat besar terselip padatan yang kita namai bumi. Disinilah Allah
menggelar drama kehidupan, pentas sosial mahluknya. Allah ciptakan keterkaitan
dialektis antara satu dengan yang lainnya, antara manusia dengan alam
sekitarnya, antara anggota himupunan alam dengan anggota lainnya. Yang dari
hubungan itu bisa tercipta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Antara inti atom
berdialektika dengan elektron membentuk unsur-unsur, unsur satu dengan yang
lain membentuk senyawa, senyawa satu dengan yang lain membentuk zat-zat yang
dengan keteraturan yang sangat halus membentuk keseimbangan dan tidak ada yang
tidak taat kepada syariat Allah. Ditempat itu juga karya terabaik Allah SWT
ditugaskan. Diberi jabatan sebagai Khalifatullah, representasi Allah di muka
bumi dan jagat raya.
Jika
dibandingkan ukurannya, manusia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan
besarnya mega konstruksi jagat raya. Ibarat jagat raya ini kumpulan debu di
padang pasir, manusia hidup di salah satu debunya. Sungguh kecil dan tidak
berdayanya manusia. Tapi yang kecil dan lemah itulah yang diberi mandat
pengelolaan bumi, diberi sedikit kemerdekaan untuk meyalurkan kreativitas.
Agaknya memang tidak masuk akal tapi ya mau bagaimana lagi. Sempat juga dirotes
oleh mahluk-Nya yang bernama malaikat, kenapa repot repot bikin manusia toh
nanti kerjaannya membuat rusak dan salah bunuh menumpahkan darah saudaranya
sendiri? Dengan kekuasaannya dia bantah malaikat “ Aku (Allah) lebih tahu dari
kamu, kamu jangan sok tau”.
Singkat cerita
dimualilah sejarah manusia dibumi, dari generasi-generasi. Pernyataan malaikat
membuahkan bukti, sebagian manusia merusak bumi, sebagian lain sibuk perang,
mencincang saudaranya sendiri dengan alasan yang tidak dibenarkan. Tapi itu
semua bukan menjadi alasan untuk membatalkan penciptaan manusia. Allah bukanya
tidak tahu bahwa yang diinterupsikan oleh malaikt-Nya itu tidak akan terjadi
tapi memang bukan tujuan Allah untuk membuat manusia itu lurus-lurus saja,
semuanya nurut-nurut, semuanya baik-baik, seperti cahaya tidak akan terlihat
bercahaya kalau tidak diselubungi kegelapan, ditetapkannya dialektika cahaya
kegelapan, baik buruk, surga neraka, salah benar. Mungkin itu kandungan
pengentahuan Allah yang tidak diberikan pada siapapun bahkan malaikat
sekalipun, tapi itu lebih tepatnya ya hanya Allah yang tau, manusia hanya bisa
melakukan ijtihad untuk mencari pemahaman, yang penting keluarannya adalah
bertambahnya iman.
Dalam
perjalanannya manusia semakin tidak tahu tujuan, semakin tidak mengenal
Tuhannya. Bahkan muncul kemungkinan baru, muncul Tuhan-Tuhan baru yang dianggap
Tuhan oleh manusia padahal bukan. Akhirya sang cahaya terpuji, senior para
mahluk, dimanifestasikan oleh Allah kedalam peran manusisa, menjadi Muhammad
Bin Abdullah, anak dari pak Abdullah dan ibu Aminah. Ditugasi membimbing
manusia kembali ke jalan-Nya, dibekali nubuwah dan risalah. Dan beliau Nabi
Muhammad SAW adalah salah satu bukti cinta Allah kepada manusia. Allah tidak
tega manusia lupa kepada asalnya, karena lupa pada asalnya adalah sumber
bencana terbesar bagi manusia, dari situlah muncul bencana lain, sperti yang
disampaikan malaikat berupa pengerusakan bumi dan pertumpahan darah. Dua
bencana itu tidak lain disebabkan kebodohan manusia melupakan asal mulanya.
Maka dituslah Rasulullah SAW.
Itu sebabnya
dalam dialektika hubungan cinta kita kepada Allah, tidak boleh kita tinggalkan
Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW itu kekasihnya Allah, mahluk yang paling
dicintai-Nya diantara yang lain, mahluk pertama yang Ia ciptakan dan sebagi
sebab terciptanya alam semesta. Satu-satunya nabi yang diberi hak syafaat,
Manusia pertama yang akan dimasukkan Allah ke surga, sampai umatnya juga
kecipratan cinta-Nya sehingga umat Muhammad lah yang pertama juga masuk surga
daripada umat-umat yang lain. Jadi kalau anda ditakdirkan lahir belakangan ini
dan mendapat kesempatan jadi umatnya kekasih Allah Muhammad SAW, jangan pernah
sia-siakan kesempatan itu, itu adalah kesempatan sekali seumur hidup tidak bisa
dulangi lagi kecuali Allah berekehendak lain. Kalau anda tidak pernah menyapa
kekasih-Nya, Allah juga males menyapa anda, maka rajin-rajin lah menyapa
kekasih Allah.
Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
(QS
AL AHZAB, Ayat 56)
Wahai
engkau Habibullah, kekasih Allah,
Mutiara diantara batu-batu
Takdir memisahkan
mu dari ku
Tidak pernah kupandang sejuk wajahmu
Tapi keterbatasan itu hanya
akan menambah cintaku padamu
Hanya akan menambah rinduku padamu
Hanya akan
menambah kenikamatan bertemu denganmu
Kami umatmu sangat merindukan
pertemuan itu
Ya Allah izinkan kami bertemu dengan kekasih-Mu itu
Dengan
cahaya yang engkau cintai, dengan cahaya terpuji -Mu
From : Mas_Haris
Edit : Mas_Dika
x
# Tidak boleh
"Tidak boleh maksiat kapanpun dan dimanapun "kata ini serasa sontak menghujam kedalam diri
rasa yang terjangkit didalam diri, yang entah mengetahui kesalahan yang telah menjadikan diri mengerti.
penyakit itu yang terasa didalam diri, maka mari katakan,
"tidak boleh maksiat kapanpun dan dimanapun"
Sadarkan bahwa yang pemilik maha melihat selalu mengetahuinya.
Minggu, 09 Juni 2019
# Dirimu Vs Dirimu
Sebelum
melakukan apapun dalam kehidupan manusia dihalangi oleh tembok besar yaitu
dirinya sendiri. Persyaratan niat yang terwujud adalah dengan menerobos tembok
tersebut. Ini terjadi dalam segala aspek kehidpuan, apapun itu, baik soal iman,
kelakuan, bicara, pilihan dan seluruh proses kehidupan. Penerobosan bisa
berjalan lancar atau berjalan sangat sukar bergantung ketebalan tembok,
kekuatan bahannya, dan tentu saja daya tembus diri. Tebal tipisnya tembok,
bahannya, dan daya tembus diri sangat dinamis dan kadang-kadang membingungkan
kalau tidak jeli melihatnya. Ada dua kemungkinan elemen peyusun tembok. Pertama
tembok dengan bahan kebaikan dan tembok dengan bahan keburukan. Tembok kebaikan
akan menemui daya tembus keburukan dan sebaliknya tembok keburukan akan menemui
daya tembus kebaikan. Tembok yang pertama membatasi manusia untuk tidak berbuat
buruk. Tersusun dari bahan-bahan tauhid, akidah, akhlak, iman, akal.
Elemen-elemen ini tersususun sedemikian rupa sehingga membentuk pengendalian
diri guna mengurung potensi daya tembus keburukan. Tembok yang kedua berfungsi
memenjarakan daya tembus kebaikan. Mengantarkan manusia pada keburukan.
Tersusun dari bahan kekufuran, kalalaian, kemalasan, syahwat. Kedua jenis
tembok ini silih berganti mengiringi perjalan hidup manusia.
Tembok kebaikan
akan kita temui ketika datang niat melakukan keburukan. Dan musuh kebaikan
adalah keburukan. Maka pertentangan yang terjadi adalah pertentangan daya
tembus kebukrukan melawan tembok kebaikan. Perubuatan baik akan terlaksana manakala
tembok tersusun kokoh dan mempunyai ketebalan yang cukup untuk menahan
keinginan buruk yang akan meniadakan kebaikan. Apabila manusia mampu mengurung
potensi tersebut maka terwujudlah perilaku kebaikan. Begitu juga ketika
temboknya tipis, strukturnya kacau tidak saling menguatkan. Roboh dan hancurlah
tembok kebaikan,melesatlah perbuatan jahat. Produknya adalah perilaku-perilaku
yang berifat merusak.
Tembok keburukan
berdiri ketika kita mempunyai niat melaksanakan kebaikan. Menyelubungi dan
memenjarakan daya tembus kebaikan yang akan kita nyatakan. Seberapa tebalnya
tembok ini berbanding lurus dengan ongkos yang kita bayarkan untuk
membangunnya. Ongkosnya adalah kemaksiatan yang terus-menerus, kemalasan
berfikir, kesombongan, amarah, semuanya membantu mempertebal dan memperkokoh
bangunan tembok keburukan. Setiap hal tersebut kita laksanakan bertambah
kuatlah temboknya, yang berujung pada terkurungnya potensi kebaikan yang ada
pada manusia. Semakin tebal dan kokoh tembok berarti semakin besar daya yang dibutuhkan
untuk menembusnya. Tetapi ada suatu fase dimana daya tembus kebaikan manusia
sudah tidak ada gunya lagi, karena begitu kuatnya tembok. Seperti yang Allah
firmankan
Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua
golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah
membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah
kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?
Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan
(untuk memberi petunjuk) kepadanya.
(QS. An Nisaa', Ayat 88)
(QS. An Nisaa', Ayat 88)
Namun ada juga
suatu keadaan dimana tiba-tiba daya tembus kebaikan menjadi kuat berkali-kali
lipat sehingga mampu menerobos tembok keburukan
Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh
Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha
Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?
(QS. Az Zumar, Ayat 37)
(QS. Az Zumar, Ayat 37)
Musuh manusia
yang pertama kali dihadapinya adalah dirinya sendiri. Keberhasilan manusia
ditentukan oleh keberhasilannya menundukkan dirinya. Disetiap ruang dan waktu
pertentangan inilah yang dijumpai. Tidak ada urusan dengan usia, tempat
tinggal, status sosial, tingkat kepandaian, jabatan. Mau rakyat jelata sampai
elit-elit politik setiap saat harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bahkan
semakin pandai dan semakin bijak manusia bukan lantas menghilangkan arena
pertempuran ini. Melainkan akan menambah canggih model pertempuran, menambah
tebal dan kuat tembok. Ujian yang terus bergulir tanpa henti sampai ada keputusan
untuk menghentikanya dari Allah sendiri.
Posisi manusia
hanyalah berusaha terus membangun tembok kebaikannya dengan bahan ketaatan,
kesabaran, syukur, dan menjalani perjuangan secara sungguh-sungguh. Sambil
mengharap kekuatan dari yang maha kuat.
Selasa, 16 April 2019
# Bersapa Sopan
Keindahan yang tercermin dalam lelaku sikap
Menjadi benerang saat keindahannya dapat terasakan
Yang terwujud dengan anggunnya dalam segala akhlak
Mengindah dalam laku gerak sesuai dengan dalam tapaknya
Lelakunya hadir disetiap hati yang mengindahi
Tercermin dari yang mengindah dalam menatapaki
Bersama dengan ridho yang diingini
Mengarti dalam setiap langkahnya nanti
Sapaan yang sopan dan perangainya yang santun
Menjadi wajihah cermin dari dalam hati
Mengindah dalam membersamai
Selalu menghadir dari dalam hati
# Sopan
Salah satu wujud keindahan akhlaq yang terpancar baik dari keimanan dan taqwa kita yaitu berbuah perilaku yang baik, nilai itu terpancar salah
satunya berupa laku sopan dan santun dalam keseharian.
Sopan yang muncul dari kemuliaan
akhlaq, merupakan satu dari sebuah tanda yang tercermin dari kedalaman
pemahaman agama seseorang.
Coba rasakan, apa yang terasa jika
suatu saat kita berjumpa dengan seseorang yang sopan sikapnya, seseorang baik
lakunya dan seseorang yang baik tutur katanya? Pastinya akan selalu mencuri perhatian
hati kita, dan Bahkan kitapun akan dibuat sopan dengan kesopanan orang yang
menyapa kita, ia bukan ?
Karena kesopanan sikap menentukan
nilai dari diri kita, yang mana semakin tinggi nilai kesopanan, berbanding juga
akan semakin tinggi derajad kita saat dipandang orang lain dimata mereka dan bahkan
dipandangan sang Khaliq kita.
Namun akan juga sebaliknya, jika
sikap akhlaq kita buruk dalam kesehariannya maka nilai rendah yang akan
tervonis dalam diri kita dipandangan orang lain dan bahkan dipandangan oleh sang
pencipta.
Karenanya, sikap akhlak yang bernama
sopan ini merupakan sebuah cerminan dalam diri kita, cerminan yang ada pada
disetiap rasa dada kita, cerminan yang terdapat dalam segala kenikmatan iman
kita, yang juga akan menjadi nilai dalam diri kita dalam wujud baik dan buruknya.
Sekarang, seberapa baik
tingkatan sopan kita?
Sopan kita terhadap kedua orang tua
kita?
Sopan kita terhadap orang yang lebih
tua dengan kita ?
Sopan kita terhadap orang yang lebih
muda dengan kita?
Sopan kita terhadap guru - guru,
kerabat –kerabat, dan teman - teman kita?
Bahkan sopan kita terhadap pegemis,
pemulung, pengamen dan kepada orang – orang yang ternilai lebih rendah dari pada kita ?
Sudah sopankah kita?
Dalam hal ini apalah artinya ilmu agama yang luas, gelar yang panjang, kedudukan jabatan yang tinggi, kalau sikap sopanpun jauh dari nilai dalam diri kita. Maka tak akan terhina dengan ketidak sopanan sikap orang lain, tetapi kita akan menjadi sangat terhina kalau diri kita tidak memiliki sikap sopan kepada yang lainya.
“ Pilihlah sikap terbaik kita
yaitu bertindak dan berbuat dengan penuh kesopanan “
Oleh karena itu, mari kita kendalikan
sikap kita saat menyuruh, meminta tolong, menegur, mempersilahkan bahkan menolak
sesuatu. Berikanlah nilai sopan yang baik yang mencerminkan akhlak yang baik dan
juga bukti keimanan dan ketaqwaan kita.
mari kita mencoba menerapkannya :D
Sabtu, 06 April 2019
# Kedamaian hati
Sang raja yang ada didalam diri
Pengendali akan semua rasa yang diingini
Yang semestinya ia juga mengerti
Saat ia memiliki maha raja dijagad ini
Hati,
Yang hadirnya tak juga kasat dimata
Tetapi rasa yang bisa mengartikannya
Kendati ia mengenal Rabb pemilik semesta
Pastinya ia kan baik untuk selamanya
Hati,
Dalam segala tingkahnya
Kan menjadi penanggung jawab nantinya
Karena wujud iman dan taqwa yaitu darinya
Alangkah indahnya jika ia mengenal Rabb maha diraja
# Berbincang Hati
Hati, ibarat seorang raja yang
mengatur dan memiliki bala tentara. Ia memberi perintah dan berbuat sesukan
kehendanya, semuanya dibawah kekusaaanya. Mereka akan lurus pun menyeleweng itu
karena mengikuti keinginanya, baik yang diperitahkan maupun yang dilarangnya.
Hati ibarat raja bagi jasad,
sementara jasad ibarat bala tentaranya, yang ia akan siap sedia melaksanakan wujud
perintah dan menerima petunjuk setiap saatnya. Setiap amalnya yang lurus
bersumber dari hati yang merupakan niat dari sang raja, serta hati bertanggung
jawab penuh atas segala bentuk laku dari sang jasad. Karena disetiap pemimpin
akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Rasulullah bersabda : “Ketahuilah, bahwa didalam jasad
manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya,
dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal
daging itu ialah hati ”
Oleh karena itu, memperbaiki dan
meluruskan hati merupakan tugas pertama yang diemban orang-orang yang menapaki
jalan kebenaran kepada-Nya. Sementara memperiksa penyakit dan mengobatinya
ialah tindakan yang paling penting yang harus dilakukan dalam setiap
langkahnya.
Dalam pembagian hati, ada yang
namanya hati yang sehat, yang didalamnya terdapat Rabb dalam
hatinya, untuk menapak, berjalan didunia dan nantinya berjalan dan menapak di
akhirat-Nya. sehingga kita kan selamat dari penghambaan selain-Nya, karena ia
mengetahui bahwa penghambaan sejati untuk Allah atas dasar keinginan, cinta,
pasrah, penyerahan diri, takut, dan mengharap rahmat dan ridho-Nya.
Kemudian hati yang sakit,
yang didalamnya terdapat hati, tetapi ia terjangkit dan berpenyakit. Terkadang
hatinya condong pada kebaikan, namun terkadang berat pada kemaksiatan.
Didalamnya ada cinta, iman, ikhas, tawakah kepada-Nya. Tetapi dilain sisi ia
memiliki sifat iri, ujub, hasad, sombang yang menjangkiti bersemayam dalam
dirinya.
Kemudian hati yang mati, yang didalamnya tiada kehidupan. Ia tidak mengetahui sama sekali Rabb - Nya, dan ia akan berjalan sesuai dengan syahwatnya. Intinya nafsu menjadi pemimbingnya dalam hidup tanpa ia menganal dan mau mengenal Rabbnya, sungguh akan celaka dengan kehidupannya.
Lantas dimana posisi hati kita ?
Tanyakan pada hati kita :D
Minggu, 31 Maret 2019
# The Real Idol
Siapa manusia yang menjadi favoritmu?
Siapa manusia yang paling dicintaimu ?
Siapa manusia yang paling dikagumimu ?
Tentunya setiap kita akan memiliki
orang-orang yang menjadi favorit dalam hidup, menjadi kiblat dalam setiap
tingkahnya, menjadi panutan cara hidupnya, menjadi acuan akhlak dan sopa
santunnya.
Lalu siapa the real idol kita ?
Adakah Rasulullah kita tercinta
sebagai tokoh favorit kita? sayang sekali kalau tidak.
Karena mengidolakan, menfavoritkannya
merupakan kuwajiban untuk kita, dan juga menfollow (mengikuti) segala bentuk
kesemuannya yang wajib diteladani adala bukti ngefansnya kita dengannya.
Rasulullah SAW, diutus untuk menebar
risalah keislaman dan sekaligus sebagai rahmatan lilalamiin (rahmat bagi
seluruh alam) yang terdapat di dalam diri beliau penuh dengan nilai-nilai kebaikan dan contoh teladan
utama.
Bahkan coba bayangkan, sejak muda saat belum diangkat menjadi
rasulullah, semua orang qurais menjuluki beliau sebagai “Al-amin” beliau
manusia yang paling jujur dan sangat dapat dipercaya.
Dikuatkan juga oleh firman Allah [QS : Al-
Ahzab – 21]
“ Demi sesungguhnya, adalah
bagi kamu pada diri rasulullah itu contoh ikutan baik, yaitu bagi orang yang
senantiasa mengharapkan (keridhoan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat ”
Kehidupan dan pribadi beliau yang
baik itu dijadikan Allah sebagai pola kehidupan yang harus ditiru oleh setiap manusia.
Karenanya, keseluruhan perilaku hidup beliau merupakan contoh teladan bagi umat
manusia. Dan Rasulullah dihadirkan perantara Allah untuk menurunkan Al-quran
untuk disebarkan diseluruh dunia dan ar-risalah sebagai penuntun manusia menuju
jalan yang lurus yang bernilai mulai yang diridhoi Allah.
Yang kehidupannya
merupakan wujud citra paling tinggi dalam seluruh aspek kehidupan manusia,
tutur kata bahasanya yang merupakan puncak segala budi bahasa, yang risalahnya
adalah ujung sega cita-cita yang mulia (Syurga Allah) untuk diraihnya.
Untuk itu, kita sebagai penge like
serta pe follow setia beliau, wajib untuk meniru dan melakukannya dikehidupan
sehari-hari hingga kita menjadi insan kamil.
Dan bagi siapa yang tidak ingin
meniru pribadi mulia tersebut, jangan pernah sekalipun berhadap memeroleh
kebahagiaan.
jadi, masih mikir – mikir tak
menfavoritkan beliau ?
Sabtu, 30 Maret 2019
# Generasi Ulul Albab
Apa itu ulul albab ?
Ulul albab, adalah mereka orang-orang
yang beriman dengan kesungguhan dalam hidup berdasarkan ajaran al-quran. disetiap
hari, saat kita merasakan akan keberadaan Allah, untuk itulah yang menuntun
hidup dalam hidayah yang juga menuntun pada jalan iman.
Sesaat kita merasakan nikmat dipagi
hari, saat membuka mata dalam menjalankan aktifitas yang itu merupakan salah
satu nikmat Allah, yang menuntun kepada iman dan tentunya perlu disyukuri atasnya. yang Ia terbangun dari tidur panjangnya, jiwanya terpisah menguak cerita dengan
mimpi indahnya, dan terbangun dengan tersatukannya antara jiwa dan raga kembali
untuk bersyukur kepada-Nya.
Dalam firman-Nya didalam [Ali Imran: 190-191]: “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka".
Tentunya, orang yang beriman, berakal
dan berilmu yang senantiasanya untuk merenungi atas segala nikmat yang
diberikan-Nya akan selalu memulai hari barunya dengan memikirkan dan berterima
kasih kepada Allah semata. Karena cinta dan kasih sayang-Nya, ia akan
menghargai harinya sebagai sebuah kesempatan
yang diberikan untuk meraih ridho dalam mengukir cerita dalam perjalanan
yang akan ditempuh untuk mendekatkan kepada syurga-Nya.
Sehingga kapasitas kita menjadi seorang hamba yang mengingini sebagai predikat “ulul albab” tentunya harus di melaksanakan dengan sebaik – baiknya iman dalam mencintai-Nya, menyayangi-Nya dengan wujud taat dan patuh serta pasrah atas segala ketentuan- ketentuan-Nya.
Seorang hamba yang secara tulus
mengarahkan pikiran kepada Allah akan selalu dituntun melihat kenikmatan –
kenikmatan yang telah diberikan, sehingga dengan seksama ia akan merenungkan
nikmat Allah yang telah diterimanya dan ia akan mengerti tidak ada yang lain
selain Allah yang berkuasa dan yang memberi segala kenikmatan – kenikmatan
atas-Nya.
“ 24 jam berhidup, bernafas
dengan segala konsekuensi dan pengawasan Allah, akan membuat kita berbuat,
bertindak, berperiaku dengan bijak “
Jadilah yang itu “Generasi ulul
albab”
Langganan:
Postingan (Atom)